Langsung ke isi
DigiSportLayanan Olahraga Nasional
Prestasi atlet

Rumus Poin dan Peringkat Atlet

Setiap atlet mendapat satu angka yang bisa dijelaskan baris per baris. Dari angka itu disusun peringkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota, per cabor, nomor, jenis kelamin, dan kelompok umur.

Rumus awal v0.1 2 November 2026 Patokan: emas PON = 1.000 poin
N = B × P × K × L × U × M
BBobot event
PPeringkat
KKelompok umur
LLapangan (peserta)
UUmur hasil
MKeanggotaan
N = nilai satu hasil. Skor Aktif = jumlah 6 nilai N terbesar, dengan U. Dipakai untuk peringkat. Skor Karier = jumlah semua N, tanpa U. Ditampilkan di profil atlet.
Coba langsung

Kalkulator skor atlet

Berisi contoh Atlet A (renang, Jawa Barat). Ubah, tambah, atau hapus hasil untuk melihat pengaruh setiap faktor. Kosongkan jumlah peserta jika tidak diketahui.

Skor Aktif06 hasil terbaik, dengan umur hasil
Skor Karier0semua hasil, tanpa umur hasil

01B · Bobot event (poin dasar)

Poin untuk juara 1 atau emas menurut kelas event. Setiap naik satu jenjang, nilainya kira-kira dua kali lipat.

Lingkup (faktor M): event di bawah KONI bernilai penuh (M = 1,0). Event komunitas / non-KONI (misalnya liga komunitas seperti AAFI, berjenjang kota sampai nasional) tetap dapat poin tetapi dikali M = 0,3 (sementara), jadi tidak dicampur rata dengan prestasi KONI. Ajang disabilitas (di bawah NPC) belum diikutsertakan.

Batang memakai skala logaritmik supaya jenjang bawah tetap terlihat. Pembanding: bonus pemerintah untuk emas perorangan dilaporkan Rp5,5 miliar (Olimpiade Tokyo), Rp1,5 miliar (Asian Games 2018), dan Rp1 miliar (SEA Games 2025).

02P · Peringkat

HasilPDi PONDi Porprov
Juara 1 / emas1,001.000300
Juara 2 / perak0,70700210
Juara 3 / perunggu, termasuk perunggu bersama0,50500150
Peringkat 40,35350105
Peringkat 5 / 6 / 7 / 80,25 - 0,15250 - 15075 - 45
Peringkat 9 - 160,088024
Ikut bertanding, tanpa peringkat atau di bawah 160,044012

Peringkat 5 sampai 8 berturut-turut 0,25 / 0,21 / 0,18 / 0,15.

Emas Porprov (300) setara peringkat 5 - 6 PON, dan sekadar lolos ke PON (40) sudah setara perunggu Porkab (50). Ini sengaja: lolos ke PON adalah prestasi.

03K · Kelompok umur

KelompokK
Senior / umum1,0
Junior (U-20 / U-21)0,6
Pelajar (POPNAS, Popda, O2SN, U-17)0,5
Master / veteran0,3

Peringkat per kelompok umur tetap disusun sendiri. K hanya berpengaruh saat hasil junior dan senior dijumlahkan.

04L · Ukuran lapangan

L = min(1, √(n ÷ 8)), minimal 0,5
n = jumlah peserta di nomor itu; tidak diketahui, L = 1
PesertaL
30,61
40,71
60,87
8 atau lebih1,00

Di Porprov dan Kejurda sering ada nomor dengan 3 peserta, sehingga semua pasti mendapat medali.

05U · Umur hasil

Sejak tanggal eventU
0 - 24 bulan1,0
24 - 36 bulan0,6
36 - 48 bulan0,3
Lebih dari 48 bulan0

Hanya untuk Skor Aktif; Skor Karier tidak berkurang. Jendela 4 tahun mengikuti satu siklus PON dan Porprov.

06Batas 6 hasil terbaik dan beregu

  • Hanya 6 nilai N tertinggi yang masuk Skor Aktif. Atlet tidak bisa mengumpulkan poin dari banyak event kecil, dan perbedaan antara cabor dengan banyak nomor (renang, atletik) dan cabor satu nomor (tinju, gulat) jadi lebih kecil.
  • Setiap anggota regu yang tercatat bertanding mendapat poin penuh hasil regunya, seperti pemain ganda di BWF. Peringkat tetap per cabor dan nomor, jadi pemain beregu dibandingkan dengan pemain beregu.

07Keikutsertaan tanpa medali

  • Di skor: ikut bertanding bernilai 4% poin juara: PON 40, Kejurnas 28, Porprov 12, Porkot 4. Lolos seleksi ke jenjang lebih tinggi adalah bukti kemampuan.
  • Satu kali per event, bukan per nomor, dan tetap kena batas 6 hasil terbaik, jadi banyaknya event tidak bisa mengalahkan medali.
  • Jam terbang (tidak masuk skor): jumlah event per jenjang, misalnya "PON 1, Kejurnas 3, Porprov 2". Tampil di profil, dipakai saat skor sama, dan membantu pencarian bakat.

08Peringkat

  • Nasional: semua atlet per cabor, lalu bisa disaring per nomor, jenis kelamin, dan kelompok umur.
  • Provinsi dan kabupaten/kota: atlet masuk ke wilayah kontingen yang ia wakili pada hasil terakhirnya. Domisili dipakai jika atlet belum pernah mewakili kontingen. Mutasi otomatis mengikuti hasil terbaru.
  • Lintas cabor (misalnya atlet terbaik Jawa Barat): Indeks = skor atlet ÷ skor peringkat 1 cabornya × 100, atau persentil di cabornya.
  • Jika skor sama: emas terbanyak, lalu hasil terbaik tunggal, lalu jam terbang, lalu hasil paling baru.
  • Yang dihitung: prestasi terverifikasi. Event di bawah KONI bernilai penuh; event komunitas / non-KONI dihitung dengan faktor M = 0,3 (ajang disabilitas / NPC belum diikutsertakan). Data dari aplikasi lama untuk tahap awal dianggap sudah dikurasi dan ditandai sumbernya. Prestasi isian sendiri tampil di profil tetapi bernilai 0 sampai diverifikasi.

09Data yang dibutuhkan

  • Wajib: identitas atlet (NIK, supaya riwayatnya muncul otomatis saat atlet mendaftar), nama event, kelas event, tanggal atau tahun, cabor, nomor, hasil (medali, peringkat, atau ikut), kontingen.
  • Sangat membantu: kelompok umur dan jumlah peserta per nomor.

10Contoh hitungan, per 2 November 2026

Atlet A · renang, Jawa Barat 1.810 · karier 2.700 Emas PON 2024: 1.000 × 0,6 = 600
Perak PON 2024: 700 × 0,6 = 420
Emas Kejurnas 2025: 700
Emas Porprov 2022: 300 × 0,3 = 90
Atlet B · 3 emas Porprov 2026 (tiap nomor 3 peserta), emas Porkot 2025 651 3 × (300 × 0,61) + 100
Tanpa faktor S: 1.000, melebihi juara PON
Atlet C · perunggu SEA Games 2025, peringkat 4 PON 2024 1.210 2.000 × 0,5 = 1.000
1.000 × 0,35 × 0,6 = 210
Atlet D · pelajar, emas POPNAS 2025 350 700 × 1,00 × 0,5
Peringkat 1 di daftar pelajar
Atlet E · belum pernah juara 92 Ikut PON 2024: 40 × 0,6 = 24
Ikut 2 Kejurnas 2025: 28 + 28
Ikut Porprov 2026: 12

11Pelajaran dari sistem peringkat dunia

SistemYang diambil
BWFPoin juara menurut kelas turnamen, peringkat lain dapat persentase; 10 hasil terbaik dalam 52 minggu.
IJFPoin 100% selama 12 bulan, 50% di tahun kedua, lalu hangus.
World AthleticsSkor hasil ditambah skor peringkat menurut kategori kompetisi.
Model persentilPerbandingan lintas cabor memakai persentil, bukan poin mentah.

12Pertanyaan untuk pakar

  1. Apakah tangga B (kelipatan sekitar 2 per jenjang) masuk akal? Bagaimana posisi Kejurnas terhadap Porwil dan Pra-PON?
  2. Perlukah bobot per cabor, misalnya cabor Olimpiade atau cabor prioritas DBON?
  3. Untuk cabor terukur, perlukah skor dari catatan waktu atau jarak terhadap rekor nasional?
  4. Apakah jendela 4 tahun dan batas 6 hasil sesuai untuk pembinaan di Indonesia?
  5. Beregu besar: poin penuh untuk semua anggota, atau menurut menit atau peran bermain?
  6. Apakah bobot keikutsertaan 4% sudah tepat, dan perlukah dibedakan antara event dengan seleksi dan event terbuka?

Rujukan